07 September 2010    
Pencarian
Beranda
Tentang FKPPR
Aktivitas
Berita
Artikel
Pusat Data
Album Foto
Suara Muda Demokrasi
Buku Tamu
Agenda
Links
Arsip
Quiz
 

Download Center
Wawancara Radio Singapore International (RSI) tentang Pelatihan Blogging untuk Politisi
Laporan Survei Posko Pilkada DKI Jakarta 2007
Selengkapnya » 

Suara Muda Demokrasi
Politik Simbolisme   

Opini


Politik Simbolisme

Amich Alhumami

Di televisi ditayangkan adegan ”dramatis”, ”menyentuh”, dan ”menggugah”. Wiranto—Ketua Umum Partai Hanura—makan nasi aking di tengah kerumunan orang di sebuah keluarga miskin di Serang, Banten (SCTV Liputan6.com, 20/3/2008). Ia merasakan sendiri betapa nasi aking tidak enak dan tak layak dimakan.

Apa yang dilakukan Wiranto jelas bukan sesuatu yang natural, tetapi lebih merupakan bagian kontestasi politik menyongsong Pemilu 2009.

Dalam kajian antropologi politik, adegan Wiranto makan nasi aking itu merupakan salah satu bentuk the politics of symbolism. Politik simbolisme adalah suatu tindakan untuk merepresentasikan sebuah gejala sosial—dalam hal ini realitas kemiskinan di masyarakat—yang diwujudkan dalam simbol yang merefleksikan makna politik tertentu (Geertz 1973; Gupta & Ferguson 1992).

Di situ simbol yang ditampilkan adalah nasi aking yang dikonsumsi orang miskin, terutama kalangan masyarakat Jawa. Kita tidak tahu, benarkah tindakan itu dilandasi ketulusan hati untuk berempati atas penderitaan kaum miskin. Apakah hal itu juga merupakan kepedulian dan simpati dari nurani atas problem kemiskinan, yang membelit 39,5 juta penduduk Indonesia. Wiranto memang memberi nama partainya ”Hanura’—Hati Nurani Rakyat.

Politik simbolisme

Merujuk pandangan antropolog Akhil Gupta dalam The Anthropology of the State (2006), ”atraksi” Wiranto itu terkait dengan sesuatu yang disebut the imagination of the state power. Kita maklum, sejak awal Wiranto sudah bersiap-diri dan sedang melakukan konsolidasi untuk menggalang dukungan politik dalam rangka pemilihan presiden mendatang. Wiranto dan partai penyokongnya menjadikan isu kemiskinan sebagai tema besar kampanye. Untuk itu, Wiranto merasa perlu menunjukkan kepada publik bahwa ia memiliki komitmen kuat untuk mengatasi masalah sosial yang akut ini. Kelak bila terpilih menjadi presiden, pemberantasan kemiskinan akan dijadikan agenda kerja paling utama dalam pemerintahan yang dipimpinnya. Hal itu tercermin pula dalam iklan politik Partai Hanura di berbagai media.

Dalam konteks demikian, imajinasi kekuasaan yang bergelayut di alam pikiran Wiranto dimanifestasikan dengan mengeksploitasi—tak selalu bermakna negatif—isu kemiskinan yang diderita banyak penduduk Indonesia. Nasi aking merupakan lambang kemiskinan paling nyata. Maka, Wiranto memanipulasi—juga tak selalu berkonotasi negatif—makna simbolis di balik aksi makan nasi aking itu.

Amat jelas, ada tautan antara politik simbolisme—makan nasi aking—dan imajinasi kekuasaan, yakni upaya menggapai jabatan menjadi presiden. Sebagai sosok pemimpin, Wiranto berusaha membangun basis legitimasi kekuasaan politik, kepercayaan publik, dan kredibilitas moral melalui aneka ragam aksi sosial, yang berpotensi melahirkan dukungan rakyat. Wiranto bermain pada tataran simbolisme dan menggunakan pendekatan kemanusiaan, yakni berasosiasi dengan sekelompok masyarakat miskin guna menunjukkan jiwa populis dan merakyat.

Namun, penting dicatat, spirit kerakyatan yang dibangun melalui politik simbolisme tidak sama-sebangun dengan gagasan dan cita-cita mewujudkan negara kesejahteraan yang berwatak populis dan berorientasi kerakyatan. Sejauh ini belum ada pemimpin politik atau parpol yang memiliki cetak biru secara komprehensif, solid, dan meyakinkan bagaimana mengatasi problem kemiskinan dan membangun masyarakat sejahtera dan makmur.

Penting diketahui, politik simbolisme sama sekali tak bertujuan menolong rakyat miskin sebab esensi politik simbolisme hanya menjadikan suatu subyek (baca: masyarakat miskin) sebagai medium untuk membangun pencitraan dalam rangka memobilisasi dukungan politik.

Politik pencitraan

Apa yang dilakukan Wiranto sejatinya tak lebih dari sekadar—serupa dengan SBY—tebar pesona dengan membangun citra-diri sebagai figur populis dan merakyat. Aksi makan nasi aking merupakan bentuk politik pencitraan-diri dalam wujud yang lain. Berdasar pengalaman pemilu lalu, politik pencitraan-diri terbukti amat efektif dan sukses mengantar SBY menjadi presiden. Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana SBY melakukan politik simbolisme dengan mengeksploitasi sosok petani miskin di Cikeas, Bogor. Ketika mendeklarasikan ”koalisi kerakyatan”, SBY berasosiasi dan mengidentifikasi diri sebagai figur populis dan merakyat melalui representasi Pak Manyar, sang petani miskin. Sungguh ironis, hingga periode jabatan kepresidenan hampir berakhir pun nasib Pak Manyar tak kunjung berubah. Ia dan banyak penduduk di kampungnya tetap hidup dalam kemiskinan, bahkan tempat tinggalnya ”dikepung” kompleks hunian elite milik orang-orang kaya.

Sayang, Wiranto kurang canggih mengadaptasi hal serupa yang pernah dilakukan SBY dalam dimensi lain politik pencitraan-diri. Seperti SBY yang mengeksploitasi pencitraan-diri—juga dilandasi imajinasi kekuasaan untuk meraih jabatan presiden pada Pemilu 2004—demikian pula yang dilakukan Wiranto.

SBY dan Wiranto sejatinya mewakili sebagian besar elite nasional dalam berpolitik, yang ketika mengartikulasikan persoalan kemiskinan dilakukan melalui politik simbolisme dengan cara kurang dalam. Di mata politisi dan mereka yang punya imajinasi kekuasaan, realitas kemiskinan hanya dijadikan medium proses reproduksi politik simbolisme.

Betapa menyedihkan, mereka yang hidup dalam kubangan kemiskinan selalu dijadikan ”barang dagangan” dalam setiap ritual politik pemilu. Sejak 1998, presiden sudah berganti empat kali, tetapi pemimpin yang mengemban amanat kekuasaan tidak mampu mengubah kemiskinan menjadi kesejahteraan. Wahai para elite, politisi, dan capres, berhentilah mereproduksi politik simbolisme.

Amich Alhumami Peneliti Sosial, Department of Social Anthropology, University of Sussex, UK

http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.28.00372055&channel=2&mn=158&idx=158



 Versi Cetak  Kirim ke Teman Nilai Artikel Ini:
   Rating saat ini: 4 dari 5

Artikel Terkait:
No related articles

Komentar-komentar:
Natalis Marhaenis dari 110.136.206.32 pada 18 Juli 2010:
itulah dinamika yang ada dan kita menyadarinya. Akan tetapi kita pun mengikuti proses terjadi lalu sepertinya membiarkan hal demikian terjadi saja. seharusnya ada sebuah pola gerakan ketika memang kita peduli dengan nasib bangsa-negara serata rakya t ini kedepan. kita tahu bahwa berwacana tanpa tindakan adalah onani intelektual. (Gerak persatuan menuju perubahan)
bigperry dari 125.166.18.208 pada 27 Januari 2010:
Politisi itu harus bisa membawa keadaan negara menjadi lebih nyaman...bukan mengumbar-umbar konflik kepentingannya..dihadapan masyarakat...terlihat penolong padahal tukang todong dan pandai mencari sensasi di depan publik..seolah-olah pembela kepentingan rakyat, padahal hanya mencari makan diatas kesengsaraan orang... http://bigperry.wordpress.com/ ....maaf kalo terlalu lancang...
sugianto dari 125.167.63.5 pada 19 Maret 2009:
politisi musti tahu realitas masyarakat indonesia yang keterogin tingkat pengetahuannya sendiri. pendidikan politik dan demokrasi harus digalakkan secara lebih besar, agar masyarakat merubah cara pandangnya terhadap politik dan proses demokrasi
Amran.B dari 125.167.184.73 pada 10 Pebruari 2009:
yang penting saat ini dinegara kita adalah bangun kesadaran politik masyarakat, bukan mempertontonkan sesuatu yg lipstik. Semestinya para elit politik kalau cinta sama negara melakukan pendidikan bukan bersandiwara didepan masyarakat.
LUTFI MLG dari 202.152.172.4 pada 31 Januari 2009:
YNG PENTING PENCITRAAN FIGUR ATAU PARTAI JUGA BS DIIKUTI OLEH KADER PARTAI KRN BENTUK PENCITRAAN SLALU BAIK DAN POSITIF KRN POLITIK ATAU APA SJ JD JNG FIGUR SCR SIMBOLIS TRUS KITA NILAI SEMUA KADER PARTAI DIBAWAH AKN SM SPERTI FIGUR, BELUM TENTU BANYAK PARTAI DAN KADER HANYA NDOMPLENG ALIAS SOK FIGUR TAPI KENYATAANNYA.. MSH JAUH DR HARAPAN THANSK
LUTFI MLG dari 202.152.172.4 pada :
YNG PENTING PENCITRAAN FIGUR ATAU PARTAI JUGA BS DIIKUTI OLEH KADER PARTAI KRN BENTUK PENCITRAAN SLALU BAIK DAN POSITIF KRN POLITIK ATAU APA SJ JD JNG FIGUR SCR SIMBOLIS TRUS KITA NILAI SEMUA KADER PARTAI DIBAWAH AKN SM SPERTI FIGUR, BELUM TENTU BANYAK PARTAI DAN KADER HANYA NDOMPLENG ALIAS SOK FIGUR TAPI KENYATAANNYA.. MSH JAUH DR HARAPAN THANSK
miftah dari 125.162.160.87 pada 30 Januari 2009:
Pemilu = ajang mencari pemimpin. Mari kita pilih pemimpin yang mampu untuk menghantarkan bangsa kita menuju sejahtera lahir bathin. sejatinya seperti sembako murah, lapangan kerja banyak, pendidikan gratis, kesehatan gratis, tercukupinya perumahan layak untuk wni, ..... gitu lhooo...... mari dukung partai, capres yang mampu mewujudkan itu. hiduuuup negeriku
adi Yunsyah/monel dari 202.182.52.149 pada 29 Januari 2009:
itu hanya masalah yg ada dipermukaan saja..!!! namun siapapun yang melakukan politik simbolis dalam konteknya itu adalah lumrah..yang pasti adalah apa dan siapa yang digambarkan dlm hal ini rakyat yang memang fakta, artinya dijadikan atw tidak inilah kondisi rakyat....dengan kemampuan yang ada buat matter mna politisi yang punya komitmen, jangan lari terus kritisi dan beraksi. yang pasti saya sepakat ayo mawas issue intelijend!!!
obhie dari 125.162.118.133 pada 20 Januari 2009:
Tolong donk, kiriman gimana bentuk materinya sekalian bentuk soalnya kayak gimana???
toyo dari 125.161.150.237 pada 03 Januari 2009:
WASPADAI "POLITISI DADAKAN" SEBAGAI BAHAYA LATEN!!
siswan dari 61.94.199.75 pada 13 Desember 2008:
kampanye track record politisi salah satu solusi menekan politik simbolis (baca: munafiq)
imamgusnaldi dari 122.129.200.46 pada 09 Nopember 2008:
banyak ngomong sekarang peraktek yang penting ap yang bisa di buktikan dengan merubah sistem yang ada dan komit dari atas ke bawah
tyas dari 125.161.148.36 pada 05 Nopember 2008:
semoga masyarakat semakin cerdas memaknai citra politik yang dibangun oleh para politisi...yang dibutuhkan rakyat sebenarnya sederhana perbanyak lapangan pekerjaan yang layak....
irwan domili dari 202.174.143.219 pada 28 Oktober 2008:
sekarng ini para elit politik saling menghujat, kami sebagai rakyat bingung, apakah pantas sebagai wakil rakyat membicarakan masalah kemiskinan dihotel berbintang, katanya merakyaat, kalo memng merakyaat rasakan dong apa yang dirasakan oleh rakyat, jan cmn dimullut, JD LAMU (lalah mulut)
Narwastu dari 222.124.154.170 pada 02 Juli 2008:
Terjadinya kegagalan implemetasi resep elit politik paska mendapat kekuasaan dari rakyat karena resep yang disajikan bukan resep mereka tetapi resep orang lain yang dicoba sehingga ketika mempraktekan/menyajikannya untuk disantap rakyat rasanya hambar karnya alat perasa rakyat tak menikmati enaknya makanan yang diberikan elit.
Yuslim. SE dari 202.152.170.240 pada 25 Juni 2008:
Sekarang yang penting adalah politisi yang sudah teruji berbuat untuk rakyat, bukan politisi simbol, dan bukan pula politisi yang berkoar-koar.
abdal malik dari 202.129.187.86 pada 17 Juni 2008:
Sesuatu yang tidak sewajarnya akan nampak dan sangat mudah dipahami. Ada cara yang lebih mengena untuk menarik simpati massa. Lakukan dan buktikan bahwa kita memperhatikan dan mengedepankan kepentingan masyarakat. Bukan mencari sensasi
cakra_perkasa@yahoo.co.id dari 202.69.110.188 pada 14 Juni 2008:
saya lihat banyaknya para pemimpin tidak memiliki karisma pemimpin, , hanya bermodal kata-kata dan mengejar kepentingan pribadi saja.
Muhammad Yamani dari 195.189.143.54 pada 12 Juni 2008:
Artikel ini memberi sedikit informasi, tapi diliat dari sudut pandang saya, si penulis sangat cermat dan terlalu hati-hati. In other word's, it's good.
a.tajur dari 222.124.116.248 pada 21 Mei 2008:
jangan menuduh, maksud wiranto baik kali

Berikan komentar Anda tentang artikel ini::
Nama*
Email*
Website
IP Anda 38.107.191.85
Komentar Anda*
 
   
(c) 2010 Forum-Politisi.org